PEMBUKA HATI

Sendiri adalah kata dan kenyataan hidup yang sudah lama saya alami mulai dari saya nekat memilih hidup di kota orang dari pada menetap di kota saya sendiri. Bukan hal mudah yang saya jalani, bahkan hari-hari saya sering diwarnai dengan hitamnya kehidupan. Saya kuliah di salah satu universitas yang sangat bergengsi di kota itu. Berbaur dengan orang yang baru dan banyak adalah hal yang paling jarang dan sulit saya lakukan karena saya anak rumahan. Dari segi berbicara, menyapa dan hal yang sering mereka lakukan sangat berbeda dengan kota asal saya. Tetapi perlahan demi perlahan saya memasuki zona mereka dengan tekat yang bulat untuk keluar dari zona hidup saya karena saya berpikir ini adalah metamorfosis hidup yang harus saya jalani (positif). Citra, dia adalah orang pertama saya kenal dan dia sudah menjadi teman pertama saya di kampus ini. Saya dengan Citra memiliki background yang sangat berbeda sampai-sampai dia sering kesal melihat kepolosan saya dalam bergaul, yang saya suka dari dia adalah meskipun dia suka bergaul bebas dengan siapa saja dia selalu memberi tahukan saya mana yang harus saya percayai mana yang tidak  sekalipun seseorang itu keluarganya sendiri. Citra Hayana Putri, dia berasal dari keluarga yang terbilang tidak mampu dengan pekerjaan ayahnya preman dan ibunya hanya tukang nyuci tetangga, ia mempunyai abang yang sama seperti ayahnya orangnya keras. Citra dibesarkan dengan kasih sayang yang kurang sehingga membuat Citra sangat benci kepada keluarganya dan memutuskan menjalani hidupnya sendiri tanpa keluarga dengan mencari pekerjaan ke sana ke sini sampai Citra bergabung dengan salah satu geng motor yang sangat ditakuti di kota itu. Dari situ Citra mulai menghasilkan uang dari pertandingan balap motor dan kembali bersekolah. Sebenarnya secara umur Citra adalah kakak saya karena dia pernah berhenti sekolah pas kelas XI SMA dan setelah memiliki penghasilan dia melanjutkannya dengan kejar paket c. Setiap libur kuliah Citra selalu pergi ke base camp geng motor mereka dan Citra tidak pernah mengajak saya, padahal setiap dia kemana-mana saya selalu menemaninya. Ini merupakan pertanyaan besar bagi saya bahkan saya pernah berpikir untuk mengikutinya tetapi karena pertemanan kami belum lama saya menghapus niat saya karena saya berpikir kembali semua orang punya privasi dan alasan yang berbeda-beda.

Hari-hari saya lewati dengan hal-hal yang biasa tidak ada yang terlalu istimewa sehingga saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang baru tapi saat itu aya belum tau apa yang harus say lakukan. Suatu hari saya pergi ke pusat kota dan mengelilinginya hingga di suatu tempat langkah saya terhenti dengan perasaan saya yang kosong seolah-olah saya sendiri di tempat itu. Tiba-tiba kepalaku sakit dan badanku seolah-olah tidak berdaya, pandanganku sudah seperti biasa semuanya terlihat hitam. Saat saya sadar kembali saya sudah terbaring di sebuah rumah sakit dan saya mendapati seseorang yang tidak saya kenal, seorang laki-laki dengan tinggi badan yang mungkin lebih tinggi dariku. Perasaan dan pikiran anehku berkembang biak mengitari kepalaku dan pada saat itu juga rasanya aku ingin melarikan diri. Dia tersenyum manis di depanku dan menanyakan keadaanku, aku menjawab seolah-olah aku baik-baik saja meskipun rasanya saya ingin tidur lagi tapi untuk secepatnya keluar dari rumah sakit dan menghindari laki-laki itu saya harus bertingkah seolah-olah keadaanku sudah membaik. Akhirnya actingku berhasil dan hari itu juga saya keluar dari rumah sakit. Rasa takutku dengan laki-laki itu mengalahkan rasa berhutang budiku sehingga pada saat itu pergi secara diam-diam dan pulang ke kos dengan rasa yang bercampur aduk. Sesampai di kos Citra langsung memelukku dan menangis, mungkin dia sudah khawatir karena saya sudah semalaman tidak pulang. Saya menceritakan semua yang terjadi dan dari saat itu Citra tidak pernah memperbolehkan saya pergi sendiri kemana pun saya pergi hingga kami lulus. Kelulusan itu membuat kami terpisah, Citra yang langsung bekerja di perusahaan kecil namun dengan gaji yang lumayan sedangkan saya masih melanjutkan studi saya ke luar negeri karena pada saat itu saya lulus seleksi beasiswa S2 ke London. Di sana saya tinggal teman-teman dari Indonesia yang sama-sama lulus beasiswa juga. Hari pertama masuk kampus rasanya seperti biasa hanya saja wajah yang saya jumpai lebih beragam dan bahasa yang berbeda. Selama lima bulan saya belum bisa mendapatkan teman yang dapat mengerti saya bukannya pergaulan saya dengan teman-teman satu ruangan saya tidak baik tetapi saya akan cocok dengan mereka saat membahas masalah di kampus tidak dengan masalah pribadiku. Mereka selalu menanyakan hal ini kepadaku dan aku hanya menjawab " my time is very busy", dari jawaban saya mereka selalu berpikir di luar kampus saya bekerja atau mempunyai urusan yang lain.

Kinan teman satu kamar saya di tempat kami tinggal dia adalah orang yang mungkin lebih tahu tentang diri saya karena hari-hari saya hanya bersama dia di kamar, lebih tepatnya saya sangat jarang keluar. Kinan adalah orang yang paling cerewet yang pernah saya jumpai, tukang komen dan apa pun yang saya kerjakan itu sangat diperhatikannya sampai-sampai aku selalu merasakan bahwa aku punya kakak perempuan. Dia selalu memperingatiku agar tidak terlalu dekat dengan siapa-siapa, bahkan aku punya rasa dengan seseorang itu. Padahal dari dulu sampai sekarang meskipun saya suka dengan seseorang saya tidak mau memperlihatkannya kepada siapa pun. Dan saat saya suka kepada seseorang rasa itu tidak akan lama mungkin karena saya terlalu pemilih dan saya juga mudah ilfil dengan sikap seseorang. Mungkin ini salah satu alasan saya tidak mempunyai teman dekat di kampus karena sikap mereka yang bisa dibilang terlalu bebas sampai membuat saya tidak cocok dan ilfil. Masuk bulan keenam tiba-tiba seorang dosen kami mengundurkan diri dan kabarnya akan digantikan dengan dosen muda dan lulusan dari universitas ini juga. Banyak mahasiswi menunggu kedatangannya sampai saatnya dia masuk ke ruangan kami sesaat itu juga ruangan itu berubah seperti tempat konser kpop, sorakan sambutan mereka seakan-akan memecahkan gendang telinga saya dan saat itu saya ingin keluar dan Alex menahanku untuk keluar "it's only been a while" itu yang dia ucapkan kepadaku dan aku pun duduk kembali. Setelah saya perhatikan wajah dosen baru itu tidak asing di mataku, seperti pernah melihatnya di suatu tempat dan entah mengapa jantungku berdegug kencang saya melihat bola matanya seolah-olah saya pernah bertatap muka dengannya. Aneh, itulah perasaanku saat itu. Wajahnya yang indo membuat saya makin penasaran karena dia pasti dari Indonesia juga. Suatu hari dengan tidak sengaja saat saya berjalan ingin ke tempat tinggal saya di depan apartemen mewah, dari apartemen itu keluar seseorang yang saya kenal, iya dia dosen baru kami dari Indonesia itu. Rasa penasaran saya pada saat itu semakin bertambah sehingga saya memutskan mengikutinya padahal saat itu cuaca sangat panas, tiba-tiba saya kehilangan jejak dia dan baterai ponsel saya ternyata sudah habis. Saya melihat sekeliling saya sangat sunyi saya sangat merasa ketakutan karena saya baru pertama kali pergi keluar dari tempat tinggal saya sendirian. Saya sangat bingung, saya ingin bertanya tapi saya sangat takut. Saya terus berjalan hingga pada saat itu langkahku berhenti dan kepalaku sangat sakit membuatku tidak sadarkan diri. Saya sadar aku sudah berada di suatu rumah yang tua, sepi dan sangat besar. Hentakan kaki terdengar dari luar pintu dan saya memejamkan mata ternyata orang yang membawa saya ke rumah itu adalah orang yang saya ikuti dia dosen baru kami. Dia mengetahui saya mengikuti dia, "jangan berpura-pura lagi, bangun dan isi tenagamu di belakang!", dia pergi meniggalkan kamar karena saya juga memang tidak memiliki tenaga saya pergi ke belakang ternyata banyak makanan yang sudah dihidangkan. Dari dapur datang seorang perempuan tua membawa semangkok sup dan memberikannya kepadaku dia bilang sup itu sangat bagus untuk mengembalikan tenaga. Sambil makan perempuan tua itu banyak bercerita tentang apa-apa yang sudah ia alami dan tentang dosen baru kami ternyata perempuan tua itu adalah neneknya. 


Komentar